Pendidikan Muslimah Tak Kalah Penting
June 7, 2021
Lima Alasan Selalu Berbuat Baik
September 15, 2021Tulisan ini hanya cerita pribadi, silahkan diskip jika ingin skip.
Membahas seputar pengalaman ibadah pribadi takkan pernah sedikit. Jalanya panjang, berliku dan unik pada setiap diri. Pengalaman berhubungan dengan Allah atau “dihubungi” Allah pastilah panjang dan terus berubah.
Dulu awal ngaji kami memaknai ibadah sebagai kewajiban, seolah guru kami mengeluarkan ayat dari qur’an dan hadist semua tentang kewajiban kita sebagai hamba Allah. Bahasanya tentang dosa dan pahala Allah di akhirat. Kami selaku santri jadi semangat beribadah dan merasa “wajib” sehingga merasa bersalah jika hendak meninggalkan ibadah. Akhirnya kami terus ikhtiar beribadah meski kadang merasa tidak bahagia dan terbebani karena merasakan ini wajib.
Pengalaman bertambah seiring bertambahnya ilmu dan amal, kami rasakan ada perubahan rasa dalam hati. Setelah “diwajibkan” beribadah, guru kami sepertinya menambah dosis ilmunya. Beliau memberikan beban kerja sosial ke murid – muridnya. Kami diamanahi ngurus masjid, ngurus pesantren, dan berwiraswasta untuk kemandirian. Saat ngaji cerita – cerita ashabul nuzul ayat dan penjelasanya, serta sirah nabawiyah dan para sahabat, semua seputar pertolongan Allah dan balasan bagi yang beribadah dan berjuang. Kita merasakan harus taat jika ingin dibantu Allah dan ibadahpun seperti keharusan “syarat” kemenangan kita di medan kehidupan dunia. Sudah seperti jual beli sama Allah, saya jual ini, tolong bayar saya dengan itu ya Allah”.
Akhiran, beberapa hari terakhir ini kami rasakan ada perubahan dalam hati. Pertanyaan muncul dari dalam hati, “apa guru kami sudah naikan lagi level ngajinya yah?, kok rasanya beda lagi.” Hati dalam kondisi punya banyak keinginan dan kepentingan, tapi malu sama Allah. Malu mau minta, padahal sebelumnya dipahamkan harus minta, berdoa tanda pengharapan kepada Allah. Tapi malu ini bukan karena tidak berharap pada Allah. Dulu semangat jika hendak sholat, puasa, dan sedekah karena punya hajat, ini kok jadi merasa segan, cukup sholat, puasa, dan sedekah sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan pada Allah. Serasa hanya ingin cukup bisa dekat pada Allah sudah cukup sembari mensyukuri takdir Allah dan berikhtiara sepantasnya sesuai target capain.
Mohon arahan dan petunjuk pembaca, bagaimana tentang rasa yang sedang menghampiri kami ini?. (tulus prasetyo)


