Datangnya Kemenangan Yang Sesungguhnya
November 3, 2023
Kenapa Mainan “Jin” Bisa Sakit
November 16, 2023
MENTADABBURI HARI PAHLAWAN
Bulan November memiliki memori tersendiri bagi bangsa Indonesia. Jika pada Bulan Oktober tepatnya 22 Oktober kita memperingati Hari Santri, maka 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Peristiwa 10 November dilatari oleh pertempuran dahsyat antara Rakyat Indonesia khususnya di Surabaya dengan Tentara Sekutu yakni Inggris.
Berkenaan dengan gugurnya para pahlawan bangsa, tentu sebagai generasi yang hidup di masa yang berbeda tidak pernah mengerti bagaimana nasib mereka kemudian. Apakah mati sia-sia ataukah mati terhormat? Pada masalah ini, Allah swt. berfirman sebagai berikut
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌ ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (Q.S. al-Baqarah [2]: 154)
Menurut Imam al-Qurtubi orang-orang tersebut tidaklah mati tetapi hidup. Maksudnya meski secara fisik orang tersebut telah tiada, namun jiwa atau ruh masih tetap hidup di alam yang berbeda. Kemudian orang-orang tersebut diberi rezeki dengan adanya kehidupan baru di alam lain. Adanya orang-orang yang syahid atau gugur di medan tempur meninggalkan kesan juga nama baik bagi orang-orang yang masih hidup.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadis Nabi Riwayat Abu Dawud nomor 2520 bahwa ruh para syuhada berada di perut-perut burung hijau, di mana burung-burung itu mendatangi sungai-sungai surga dan memakan buah-buahannya, kemudian pulang ke lampu-lampu yang menempel di ‘Arsy. Sehingga generasi selanjutnya dapat mengambil hikmah dari para syuhada yang telah berkorban jiwa raga untuk tegaknya agama Allah (Muhammad ibn Ahmad ibn Abu Bakr al-Qurtubi, Al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Juz 5, hal 408-410)
Jika dikaitkan dengan hari pahlawan, maka dapat kita ambil pelajaran bahwa sebagai generasi muda hendaknya kita tidak melupakan sejarah terutama jasa para pahlawan yang telah berjuang sekuat tenaga. Lalu kemerdekaan pun tidak diraih secara instan melainkan dengan kesabaran dan perjuangan. Sebagaimana yang terjadi pada peristiwa 10 November 1945 di Surabaya atau yang kita peringat sebagai Hari Pahlawan, para pejuang tidak hanya berasal dari ketentaraan resmi, para rakyat yang tergabung dalam laskar-laskar turut serta berjuang melawan penjajah. Begitu pula Ulama dan Santri turut serta mengawali perjuangan kemerdekaan.
Mari sejenak mengheningkan cipta untuk mendoakan jasa para pahlawan dan bunga bangsa yang gugur dalam medan pertempuran. Tidak hanya itu, para generasi Indonesia yang telah mengharumkan nama baik Negara ini kita doakan semoga Allah swt. meridhai hasil usahanya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian.


