
Jujur Dalam Kata dan Perbuatan
January 17, 2022
Berbuat Baik Bukan Hanya Kepada Sesama Manusia
January 17, 2022ISLAM mengajarkan kita semua agar menjadi orang-orang baik di dunia dan akhirat. Islam menjelaskan kepada kita tanda-tanda kebaikan, rambu-rambu kebajikan, dan dasar-dasar amal saleh yang bisa menyelamatkan kita di sisi Allah Swt. Peringkat amal saleh tertinggi: keimanan yang benar terhadap eksistensi Allah Swt. dan mengesakan-Nya. Sementara itu, peringkat paling terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan. Allah Swt. tidak menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun, baik berupa bimbingan, pembinaan, perbuatan, pengarahan, nasihat, kasih sayang, petunjuk, ungkapan, maupun satu kalimat yang baik.
Aturan kebaikan sangat jelas dalam Al-Quran. Allah Swt. berfiman, Dan apa saja kebajikan yang kamu buat maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya (QS Al-Baqarah [2]: 215). Allah Swt. berfirman, Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah
mengetahuinya (QS Al-Baqarah [2]: 197). Allah Swt. berfirman, Barang siapa mengerjakan amal saleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri (QS Al-Jatsiyah [45]: 15).
Sedikit atau banyak, ayat-ayat ini menjadi platform bagi tindakan seorang Muslim, baik untuk diri sendiri maupun bangsanya. Amal saleh akan diterima Allah Swt. dan berbuah pahala. Klasifikasi amal seseorang dilihat berdasarkan urgensi dan relevansinya. Jika seseorang selalu meningkatkan kebaikan, kelak ia akan menerima balasan yang lebih baik. Pekarangan amalnya amat subur dan banyak. Jika amalnya lebih banyak, berarti ia beruntung. Akan tetapi, jika lebih sedikit atau bahkan tidak ada, berarti ia merugi.
Banyak hadis Nabi Muhammad Saw. yang mengklasifikasikan peringkat amal das pahalanya. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah r.a. bahwa aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah amal yang paling baik?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allab dan jihad di jalan-Nya.” Aku bertanya lagi, “Budak sanggup yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yang paling mahal dan paling berharga.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika aku tidak sanggup melakukan itu?” Beliau menjawab, “Kamu dapar membantu orang yang bekerja, atau merampungkan pekerjaan seseorang yang tidak menyempurnakannya. “Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tidak mampu meneruskan sisa pekerjaan itu?” Beliau menjawab, “Kamu dapat menahan kejahatanma terhadap orang lain. Sebab, bal itu merupakan sedekahmu untuk dirimu sendiri.”
Hadis ini menunjukkan bahwa amal perbuatan yang paling baik adalah iman kepada Allah Swt. dan tidak menyekutukan-Nya. Setelah itu, jihad di jalan Allah Swt. seperti melawan musuh, baik dengan harta maupun jiwa. Semakin banyak seseorang berinfak semakin berharga seseorang berkurban, dan semakin mahal seseorang memerdekakan budak maka semakin besar pahala yang ia terima.
Peringkat selanjutnya adalah membantu orang lain mendapatkan pekerjaan, yaitu dengan memberi pelatihan kerja dan membekali dengan keahlian tertentu supaya terampil mengerjakan profesinya. Jika tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu orang lain maka janganlah menyakitinya. Sebab, pahala menahan diri dari menyakiti orang lain tidak kalah besar dibandingkan pahala bersedekah atau berbuat baik. Semua ini membuktikan bahwa keimanan merupakan dasar keabsahan dan diterimanya amal seseorang oleh Allah Swt. Pun bahwa amal saleh tidak bisa dipisahkan dengan keimanan, sekaligus menjadi penafsimya yang paling dipercaya.
Setiap orang dituntut berbuat baik setiap hari sebagai sedekah, penyucian anggota tubuh, dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. Imam Muslim juga meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap pagi. tiap-tiap persendian salah seorang di antara kalian harus bersedekah. Maka, setiap tasbih adalab sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekab, dan setiap takbir adalah sedekab Menyuruh kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran juga sedekah. Akan tetapi, semua itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” Dengan kata lain, salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan kepada manusia adalah sedekah, baik berupa tasbih, tahmid, tahlil, menyuruh kebaikan, dan mencegah kemungkaran. Semua itu bisa diganti dengan melakukan dua rakaat shalat dhuha, yaitu sekitar sepertiga jam setelah matahari terbit hingga waktu zuhur. Perbuatan ini dilakukan dalam rangka mengagungkan dan bersyukur kepada Allah Swt. secara lisan,
atau menjaga kesunnahan shalat dhuha secara perbuatan. Jumlah rakaatnya minimal dua, dan maksimal delapan. Meskipun begitu, bagi yang mampu, sedekah dan berinfak di jalan Allah Swa. tetap lebih utama dari lainnya, karena bermanfaat bagi orang lain.
Salah satu cara berbuat baik disebutkan dalam hadis Imam Muslim dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Semua amal umatku diperlihatkan kepadaku, yang baik dan yang buruk. Yang baik yang aku ketahui adalah membuang sesuatu yang membahayakan dari jalan. Sementara yang buruk adalah berdahak dalam masjid dan tidak dipendam. Inilah perbandingan antara perbuatan baik, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sesuatu yang berbahaya dari jalan, dengan perbuatan buruk, seperti membuang kotoran di dalam tempat ibadah dan tempat keramaian.




